Tutup GSI Papua Tengah 2026, Pemprov Dorong Sepak Bola Jadi Sarana Pendidikan Karakter

Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum, Marthen Ukago dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaidah, SE., saat penutupan GSI Papua Tengah, di Lapangan SMP Negeri 3 Nabire, Jumat (28/8/2026).

NABIRE, Faktanabire.com — Pemerintah Provinsi Papua Tengah mendorong para pelajar untuk menjadikan sepak bola sebagai ruang pembentukan karakter sekaligus wadah mengembangkan potensi dan prestasi.

Pesan tersebut disampaikan Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum, Marthen Ukago, saat mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa pada penutupan Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat Provinsi Papua Tengah 2026, di Lapangan SMP Negeri 3 Nabire, Jumat (28/8/2026),

Bacaan Lainnya

Dalam sambutan Gubernur Papua Tengah yang dibacakan Marthen Ukago, Pemerintah Provinsi Papua Tengah memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan GSI.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Dinas Pendidikan kabupaten se-Provinsi Papua Tengah, panitia pelaksana, para pelatih, pendamping, official, wasit, serta semua pihak yang telah bekerja dan memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” kata Marthen membacakan sambutan Gubernur.

Ia juga menyampaikan rasa bangga kepada para siswa dan atlet dari lima kabupaten yang telah membawa nama daerah masing-masing dalam ajang tersebut.

“Secara khusus, saya menyampaikan rasa bangga kepada anak-anakku, para siswa dan atlet dari lima kabupaten yang telah datang membawa nama daerahnya masing-masing dan menunjukkan kemampuan terbaik di lapangan,” ujarnya.

Menurut Gubernur, GSI tidak sekadar menjadi ajang kompetisi sepak bola untuk menentukan pemenang. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pendidikan bagi para siswa.

“Gala Siswa Indonesia bukan semata-mata pertandingan untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. GSI adalah bagian dari proses pendidikan,” kata Marthen.

Ia menjelaskan, sepak bola mengajarkan berbagai nilai penting kepada siswa, mulai dari disiplin, kerja keras, tanggung jawab, kerja sama, sportivitas, keberanian hingga penghormatan terhadap orang lain.

“Di lapangan sepak bola, kita belajar bahwa kemenangan tidak dapat dicapai seorang diri. Sehebat apa pun seorang pemain, ia tetap membutuhkan teman satu tim. Demikian pula dalam kehidupan, keberhasilan membutuhkan kerja sama, ketekunan, kerendahan hati, dan kemauan untuk terus belajar,” lanjutnya.

Gubernur juga memberikan motivasi kepada tim yang berhasil meraih juara agar tidak cepat berpuas diri. Ia meminta para pemain menjadikan prestasi tersebut sebagai pijakan untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi.

“Kepada tim dan atlet yang berhasil menjadi juara, saya ucapkan selamat. Jangan cepat merasa puas, jadikan prestasi hari ini sebagai awal untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Gubernur meminta peserta yang belum berhasil meraih juara agar tidak berkecil hati. Ia mendorong para siswa melakukan evaluasi dan kembali meningkatkan kemampuan melalui latihan.

“Kepada anak-anak yang belum berhasil menjadi juara, jangan berkecil hati. Kekalahan hari ini bukanlah akhir dari perjalanan. Evaluasi permainan kalian, kembali berlatih, tingkatkan kemampuan, dan datanglah pada kompetisi berikutnya dengan persiapan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Gubernur Meki Nawipa juga menegaskan bahwa Papua Tengah memiliki potensi besar dalam bidang sepak bola. Ia menyebut tanah Papua telah melahirkan banyak pesepak bola yang memberikan kontribusi bagi sepak bola Indonesia.

“Papua Tengah memiliki talenta sepak bola yang besar. Kita semua mengetahui bahwa tanah Papua telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi sepak bola Indonesia,” kata Marthen.

Ia menyebut sejumlah nama besar pesepak bola Papua, termasuk Boaz Solossa dan Ricky Kambuaya, sebagai contoh pemain yang menunjukkan kualitas dan kemampuan anak-anak Papua di tingkat nasional.

“Kita mengenal nama-nama besar seperti Boaz Solossa, dan dari wilayah Papua Tengah kita juga mengenal pemain seperti Ricky Kambuaya, serta banyak pemain Papua lainnya yang telah menunjukkan bahwa anak-anak Papua memiliki bakat, kecepatan, kekuatan, keberanian, dan kemampuan sepak bola yang luar biasa,” ujarnya.

Gubernur mengajak para siswa yang memiliki cita-cita menjadi pesepak bola profesional agar berani memasang mimpi besar. Namun, ia menekankan bahwa mimpi harus disertai perjuangan dan kerja keras.

“Kalau hari ini kalian mempunyai mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, jangan takut mempunyai mimpi yang besar. Bermimpilah suatu hari kalian bermain di Liga Indonesia. Bermimpilah kalian bermain untuk klub-klub besar,” katanya.

Menurutnya, para siswa harus mengiringi mimpi tersebut dengan latihan, disiplin, pendidikan, doa, kerja keras, dan ketekunan.

“Mimpi tidak cukup hanya diucapkan, mimpi harus diperjuangkan melalui latihan, disiplin, kerja keras, pendidikan, doa, dan ketekunan,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Gubernur Papua Tengah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan seluruh peserta GSI. Ia meminta para siswa membawa pulang pengalaman, persahabatan, serta semangat baru ke kabupaten masing-masing.

“Kembalilah ke kabupaten masing-masing dengan membawa pengalaman, persahabatan, dan semangat baru. Teruslah berlatih dan jadilah contoh yang baik bagi teman-teman di sekolah,” pesan Gubernur.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan GSI tingkat Provinsi Papua Tengah 2026, termasuk panitia, jajaran dinas pendidikan, pelatih, pendamping, official, wasit, tenaga kesehatan, dan tenaga keamanan.

“Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menyertai perjalanan kita dalam membangun pendidikan dan olahraga di Papua Tengah,” pungkasnya.

Pos terkait