Festival Media se-Tanah Papua Jadi Ruang Edukasi Pengelolaan Media Sosial Beretika

Kepala Biro Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Papua, Hendrina Dian Kandipi, menyampaikan hal tersebut saat membawakan materi pengelolaan media sosial, Rabu 14/01/2026. (Dok. Istimewa)

Nabire, 14 Januari 2026, Faktanabire.com – Festival Media se-Tanah Papua yang berlangsung di Nabire pada 13–15 Januari 2026 menjadi ruang edukasi bagi jurnalis dan pelajar untuk memahami pengelolaan media sosial yang sehat, efektif, dan beretika.

Kepala Biro Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Papua, Hendrina Dian Kandipi, menyampaikan hal tersebut saat membawakan materi pengelolaan media sosial dalam rangkaian festival, Rabu (14/01).

Bacaan Lainnya

Hendrina menegaskan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab besar dalam memanfaatkan media sosial secara bijak, terutama dalam membangun narasi damai tentang Papua.

“Media sosial jangan dijadikan pemantik konflik. Justru di situlah peran jurnalis untuk menghadirkan narasi damai, memberikan informasi yang berimbang, dan menunjukkan bahwa Papua tidak hanya soal konflik, tetapi juga memiliki banyak potensi,” kata Hendrina.

Ia menjelaskan, banyak konflik yang berkembang di Papua berawal dari informasi di media sosial yang tidak terkelola dengan baik. Karena itu, jurnalis perlu menyajikan konten yang mampu mengedukasi publik dan tidak memicu ketegangan.

“Konten yang kita buat harus bisa mendinginkan suasana, bukan menjadi trigger konflik. Media sosial harus menjadi ruang edukasi, bukan arena provokasi,” ujarnya

Dalam sesi diskusi, Hendrina juga menyoroti persoalan kecanduan media sosial yang kini meluas, tidak hanya di kalangan pelajar, tetapi juga pekerja, termasuk jurnalis.

“Kadang kita sebagai jurnalis juga kecanduan media sosial. Padahal, ruang digital ini seharusnya kita manfaatkan untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia bahkan mengusulkan agar pemerintah ke depan mempertimbangkan program rehabilitasi kecanduan media sosial dengan melibatkan tenaga psikologi, ahli teknologi informasi, serta peran keluarga dalam proses pembinaan.

Hendrina turut mengapresiasi antusiasme para pelajar yang mengikuti Festival Media se-Tanah Papua. Menurutnya, rasa ingin tahu pelajar terhadap pengelolaan media sosial justru terlihat lebih tinggi dibandingkan sebagian jurnalis.

“Anak-anak sekolah ini sangat antusias belajar membuat konten yang baik. Ini menjadi pengingat bagi jurnalis agar terus meng-upgrade diri dan tidak tertinggal di era digital,” ujarnya.

Ia berharap Festival Media se-Tanah Papua dapat menjadi agenda berkelanjutan dan digelar di berbagai wilayah Papua sebagai ruang berbagi pengetahuan, inovasi, dan peningkatan kapasitas insan pers.

“Ini festival pertama, tentu masih ada kekurangan. Namun ke depan harus terus dilanjutkan, mungkin di daerah Papua lainnya, agar literasi media dan penggunaan media sosial yang sehat semakin meluas,” pungkas Hendrina.

Pos terkait