Nabire, 4 November 2025, Faktanabire.com — Potensi bisnis pengelolaan sampah di Kabupaten Nabire dinilai sangat besar. Selain dapat memberikan keuntungan finansial, sektor ini juga menjanjikan dampak sosial positif serta dukungan regulasi yang kuat.
Peluang usaha meliputi daur ulang plastik, kertas, dan logam; pengolahan sampah organik menjadi kompos; pengembangan energi dari sampah (waste-to-energy); hingga pendirian bank sampah di tingkat masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Arfan Natan Palumpun, mengungkapkan bahwa hingga kini pengelolaan sampah di Kota Nabire masih menghadapi banyak kendala.
“Kami masih terkendala dengan pengolahan sampah di Kota Nabire. Saat ini ada beberapa perusahaan yang akan masuk, mungkin tahun ini atau tahun depan, untuk membantu mengelola sampah. Jujur, di Nabire ini sampah masih sangat banyak yang belum dikelola,” ujar Arfan di halaman kantor Bupati, Senin (3/11).
Arfan menjelaskan, DLH Nabire kini tengah mendorong pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di setiap kelurahan agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam pengelolaan sampah. Dengan adanya TPS 3R, proses pemilahan dapat dilakukan sejak awal sehingga volume sampah yang masuk ke TPS utama bisa berkurang signifikan.
“Dengan adanya TPS 3R itu nanti akan ada pemilahan sampah. Sampah yang punya nilai ekonomi seperti botol, plastik, dan sisa makanan bisa diolah menjadi pupuk organik. Targetnya, dari 73 ton sampah per hari, yang tiba di TPS bisa berkurang menjadi hanya 40–50 ton,” jelasnya.
Menurut Arfan, masyarakat masih perlu diberi pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Ia mencontohkan, salah satu pengusaha dari Surabaya bahkan meminta pasokan tujuh kontainer botol plastik per minggu, dengan harga beli antara Rp4.000–Rp7.000 per kilogram, tergantung pada kualitas dan pemilahan.
“Ini peluang besar. Kalau masyarakat tahu, ayo mulai kumpulkan. Semua itu adalah uang. Kami selalu sosialisasikan bagaimana sampah bisa punya nilai plus sebagai sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” tambahnya.
DLH Nabire juga membuka peluang bagi masyarakat atau kelompok yang ingin membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) untuk mendapatkan bantuan fasilitas dan peralatan pengelolaan sampah.
“Kami disuruh bentuk kelompok-kelompok KSM, nanti akan dapat bantuan fasilitas seperti truk dan alat pengolahan. Tapi hanya untuk masyarakat yang benar-benar serius. Setiap kelurahan kami rencanakan ada satu TPS 3R. Kalau itu terwujud, sampah di Nabire bisa benar-benar terkelola,” tutur Arfan.
Ia mencontohkan keberhasilan di Kabupaten Banyumas, di mana kelompok KSM mampu menghasilkan Rp60–64 juta per bulan dari kegiatan pengelolaan sampah.
Selain daur ulang, DLH Nabire juga melihat potensi besar dalam teknologi RDF (Refuse-Derived Fuel), yaitu proses mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Menurut Arfan, teknologi ini sudah diterapkan di sejumlah kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.
“Sekarang banyak daerah industri menjadikan sampah sebagai bahan bakar pengganti batu bara. Batu bara kan makin menipis. RDF ini uang lagi sebenarnya. Kenapa Nabire tidak bisa? Kita punya potensi 70–100 ton sampah per hari. Kalau ada fasilitasnya, bisa jadi energi baru,” jelasnya.
DLH Nabire saat ini tengah berupaya mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat untuk pembangunan pabrik pengolahan sampah modern di kawasan TPA Kaladiri.
“Segala persiapan sudah kami siapkan, termasuk lokasi dan perizinan. Ke depan, pabrik sampah ini akan membuat kawasan TPA menjadi bersih dan produktif. Sampah bukan lagi masalah, tapi sumber energi dan ekonomi bagi Nabire,” pungkas Arfan.
