Nabire, 20 November 2025, Faktanabire.com — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, Siriwini 002 Yayasan Anak Papua Tengah Hebat Dapur Mama Kita resmi beroperasi di Jln. Martadinata, Kelurahan Siriwini, Nabire, Kamis (20/11).
Peresmian tersebut dihadiri pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire, para kepala sekolah dan unsur Forkopimda.
Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Nabire, La Halim, menjelaskan bahwa dapur ini akan segera aktif, sebelumnya ada empat dapur yang telah aktif menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Presiden.
“Dapur ini sudah beroperasi secara nyata. Sebelumnya ada empat dapur yang bekerja untuk memastikan makan bergizi gratis sampai ke masyarakat, khususnya anak-anak sekolah,” kata La Halim.
Ia menyebutkan bahwa pemerataan layanan di wilayah pinggiran masih menjadi pekerjaan rumah bagi Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kalau di perkotaan bisa kita rasakan maksimal. Namun sekolah-sekolah di daerah pinggiran menjadi PR bagi teman-teman di BGN, khususnya Pak Korwil, untuk berkoordinasi dengan Satgas agar menciptakan situasi yang kondisional,” ujarnya.
La Halim menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga guna mencapai tujuan nasional perbaikan gizi.
“Makan gizi gratis otomatis meningkatkan kualitas gizi anak. Ini bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak mungkin tercapai tanpa kerja sama yang solid.
“Kita harus saling bahu-membahu. Program ini harus mampu menekan bahkan menghilangkan stunting dan gizi buruk yang masih menjadi momok di Papua,” sambungnya.
Dalam sambutannya, La Halim juga menyoroti peluang ekonomi yang tercipta dari beroperasinya dapur-dapur MBG.
“Di Nabire ada uang sekitar 14 triliun yang bergulir. Yang punya kemampuan bikin dapur, bikin dapur. Yang punya lahan, tanami. Hasilnya bisa dijual ke dapur,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dapur MBG membutuhkan bahan makanan segar dan tidak akan mengambil dari pasar yang kualitasnya menurun.
La Halim meminta kepala sekolah penerima manfaat MBG ikut mengawasi penyajian makanan agar sesuai standar.
“Jangan didiamkan kalau nasi tidak ada, lauk kurang, atau buah tidak lengkap. Laporkan. Walaupun cuma kurang buah, penyajian harus lengkap,” tegasnya.
Ia mengakui masih menemukan laporan kekurangan menu dari beberapa sekolah.
“Kalau tidak dilaporkan, kadang terlewat oleh Satgas. Karena itu, kepala sekolah harus bantu mengontrol,” tambahnya.
La Halim mengajak agar masyarakat melihat manfaat besar program MBG.
“Jangan hanya melihat sisi penolakannya. Lihat sisi positifnya bagi kita dan masyarakat,” ujarnya.
