DOGIYAI, Faktanabire.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan kasus campak di Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, dengan menurunkan tim investigasi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pendampingan teknis di lokasi.
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Papua Tengah, Yohanes Kayame, S.KM., M.Kes., memimpin langsung tim investigasi atas arahan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus Chan, M.Kes., CH.Med., CHt., Sp.KKLP.
Tim provinsi bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai yang melibatkan dr. Nila, Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Yulita Keiya, Noak Boma, S.KM., Selpian Pigai, Berta Keiya, serta tenaga kesehatan dari puskesmas setempat.
Pemerintah kampung dan tokoh masyarakat juga ikut mendukung pelaksanaan investigasi agar berjalan lancar dan diterima masyarakat.
Yohanes Kayame menegaskan, pembentukan tim investigasi merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit menular.
“Pembentukan tim ini adalah wujud komitmen nyata dalam memperkuat sistem kewaspadaan dini. Setiap informasi yang masuk kami tindak lanjuti dengan penyelidikan berbasis fakta dan data yang akurat, bukan sekadar asumsi, guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),” ujar Yohanes Kayame, Jumat (17/7/2026).
Di lapangan, tim melakukan verifikasi dan validasi kasus, menelusuri riwayat penyakit pasien, mencari kemungkinan kasus tambahan, memeriksa status imunisasi, serta mengambil sampel sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.
Tim juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala campak, pentingnya imunisasi dasar lengkap, dan langkah-langkah pencegahan penularan.
Menurut Yohanes, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada investigasi kasus, tetapi juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan di daerah.
“Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pelatihan dan penguatan kapasitas bagi petugas kesehatan di tingkat kabupaten dan puskesmas, agar respons terhadap penyakit menular dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan mandiri ke depannya,” katanya.
Selama proses investigasi, tim sempat menghadapi kendala ketika sebagian keluarga menolak pemeriksaan terhadap kasus anak yang meninggal dunia. Namun, tim mengedepankan pendekatan persuasif dengan menghormati adat dan budaya setempat serta melibatkan tokoh masyarakat dan pemerintah kampung. Pendekatan tersebut berhasil membuka ruang komunikasi sehingga investigasi dapat berlangsung sesuai prosedur.
Dinkes Papua Tengah mengimbau masyarakat, khususnya warga di sekitar Kampung Modio, agar tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta segera membawa anggota keluarga yang mengalami demam disertai ruam kemerahan ke fasilitas kesehatan terdekat agar memperoleh penanganan sedini mungkin.
“Lengkapi jadwal imunisasi anak-anak kita, karena itu adalah perlindungan paling efektif. Dengan kerja sama seluruh elemen, kita pastikan penanganan berjalan maksimal dan penyakit tidak menyebar lebih luas,” tutup Yohanes Kayame.
Melalui investigasi ini, Dinkes Papua Tengah berharap dapat memastikan penyebab dugaan kasus campak, mencegah penyebaran penyakit, sekaligus memperkuat sistem pelayanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil demi melindungi kesehatan masyarakat Papua Tengah.








