Nabire, 2 Maret 2026, Faktanabire.com — Bupati Nabire, Mesak Magai, menegaskan komitmennya untuk mengevaluasi penempatan aparatur sipil negara (ASN), khususnya tenaga guru dan tenaga medis di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Ia menyampaikan hal itu kepada wartawan usai memimpin apel gabungan awal bulan yang dirangkaikan dengan penyerahan SK PPPK dan kenaikan pangkat ASN di halaman Kantor Bupati Nabire, Senin (2/3/2026).
Dalam keterangannya, Magai mengungkapkan bahwa ia menemukan banyak sekolah dan fasilitas kesehatan yang kekurangan tenaga saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah distrik, terutama di wilayah pesisir dan pegunungan.
“Ketika kami kunjungan kerja ke wilayah 3T, kami temukan tenaga medis kosong, guru kosong. Yang mengajar hanya tenaga kontrak atau sukarela. Padahal pegawai di lingkungan pemerintah daerah ini lebih dari 6.000 orang,” ujar Magai.
Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Nabire terbagi dalam tiga zona pelayanan, yakni wilayah kota, wilayah pesisir mulai dari Lagari hingga Yaro, serta wilayah pegunungan. Dari sisi akses transportasi, ia menyebut hanya Distrik Dipa dan Distrik Menou yang relatif sulit dijangkau. Wilayah lainnya, menurutnya, masih dapat diakses melalui jalur darat maupun laut.
Meski akses sebagian besar wilayah cukup terbuka, Magai menilai distribusi ASN belum merata. Ia mencontohkan satu sekolah dasar di dalam kota memiliki lebih dari 20 guru, sementara sekolah di kampung-kampung tertentu tidak memiliki tenaga pendidik tetap.
Magai menegaskan bahwa pemerintah daerah akan meninjau kembali penempatan ASN, khususnya bagi pegawai yang masih muda. Ia menyatakan akan menggeser CPNS dan ASN yang baru diangkat ke daerah 3T untuk mengisi kekosongan tenaga pendidikan dan kesehatan.
“Kalau tenaga medis atau guru yang sudah mendekati masa pensiun ditempatkan di kota, itu wajar. Tapi kalau anak-anak muda yang masih CPNS atau baru diangkat, penempatannya akan kita tinjau kembali untuk mengisi kekosongan di daerah 3T,” tegasnya.
Selain menata ulang distribusi ASN, Pemerintah Kabupaten Nabire juga merancang langkah pemberdayaan hamba Tuhan di Distrik Dipa dan Distrik Menou. Magai menyatakan pemerintah sedang mempertimbangkan pemberian honor agar para hamba Tuhan dapat membantu proses belajar mengajar di sekolah saat tidak melayani di gereja.
“Kita sedang pikirkan bagaimana memberikan honor kepada hamba-hamba Tuhan di sana. Selain melayani di gereja, pada waktu kosong bisa mengajar di sekolah supaya anak-anak tetap belajar setiap hari, bisa membaca dan menulis, dan semangat sekolah itu tumbuh,” katanya.
Di sektor kesehatan, pemerintah daerah akan memperkuat layanan dasar melalui posyandu dan kader kesehatan sebagai langkah awal untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
Terkait pengangkatan pegawai, Magai menegaskan bahwa pemerintah daerah mengikuti sepenuhnya kebijakan pemerintah pusat. Ia menyatakan bahwa pihaknya hanya melaksanakan proses sesuai formasi dan kuota yang telah ditetapkan.
“Kami hanya melaksanakan sesuai perintah dan formasi yang diberikan. Mereka yang sudah lolos dan menerima SK adalah yang memenuhi syarat sesuai aturan dari BKN maupun Kementerian PAN-RB,” jelasnya.
Melalui evaluasi dan penataan ulang penempatan ASN tersebut, Magai berharap pemerintah daerah dapat meningkatkan pemerataan dan kualitas pelayanan pendidikan serta kesehatan di seluruh wilayah Kabupaten Nabire, terutama di daerah 3T.
