Nabire, 1 Oktober 2025, Faktanabire.com — Wakil Ketua Komisi V DPRP Papua Tengah, Anis Labene, menyambut baik peluncuran MEPA Boarding School yang digagas Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Menurutnya, hadirnya sekolah berasrama tersebut menjadi bukti nyata komitmen Gubernur Papua Tengah dalam mewujudkan pendidikan gratis dan berkualitas.
“Pertama kali ketika Pak Gubernur mau melakukan sekolah gratis di Provinsi Papua Tengah, saya orang pertama yang keluar dan menyambut baik. Program pendidikan gratis di Provinsi Papua Tengah itu harus berjalan,” ujar Anis Labene saat ditemui di Gedung DPRP, selasa (30/09).
Ia menegaskan bahwa meski program Gubernur sempat tertunda menunggu penetapan RPJMD, kini satu per satu mulai direalisasikan.
“Hari ini terbukti MEPA Boarding School sudah bisa di-launching. Artinya kami sudah satu langkah ke depan, apa yang dijanjikan beliau itu hari ini bisa terakomodir,” jelasnya.
Menurut Anis, MEPA Boarding School menjadi solusi strategis bagi peningkatan kualitas SDM di Papua Tengah, terutama bagi anak-anak SMP dan SMA.
“Kami menyambut baik dan berharap masyarakat, khususnya adik-adik kita, bisa memanfaatkan peluang emas ini. Jadi tidak harus keluar lagi ke kota atau pulau lain, guru dan tenaga pendidik yang berkualitas bisa kita hadirkan di sini,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Komisi V DPRP akan terus mengawal program prioritas Gubernur, termasuk rencana pembangunan sekolah sepanjang hari (SSH) dan sekolah berkelas ramah yang ditargetkan hadir di beberapa kabupaten pegunungan seperti Puncak, Puncak Jaya, dan Intan Jaya.
“Kami masih tunggu SSH dan sekolah berkelas ramah. Target Pak Gubernur katanya mereka mau membangun di beberapa kabupaten. Dari perubahan anggaran ini sampai masuk ke induk 2026 nanti, kami akan tetap kawal,” katanya.
Anis juga menyoroti kondisi pendidikan di wilayah konflik seperti Kabupaten Puncak. Ia menyebut kehadiran sekolah berasrama dan program pendidikan lainnya bisa menjadi jawaban atas keterbatasan akses pendidikan akibat situasi keamanan.
“Puncak ini karena konflik-konflik terus, jadi lintas generasi jadi gap yang luar biasa. Dengan adanya sekolah sepanjang hari dan sekolah berkelas ramah, otomatis ada peluang besar untuk menjawab doa generasi kita, terutama di kabupaten-kabupaten konflik,” pungkasnya.







