Wabup Nabire Tekankan Deteksi Dini HIV/AIDS, TBC, dan Malaria

Kegiatan peningkatan kapasitas kelembagaan lembaga kemasyarakatan desa dan kelurahan bagi kader Posyandu di Auditorium LPP RRI Nabire, Kamis, (22/10/2026).

NABIRE, FaktaNabire.com — Wakil Bupati Nabire Burhanuddin Pawennari meminta kader Posyandu memperkuat edukasi kesehatan dan deteksi dini untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria.

Ia juga mendorong para kader mempercepat upaya penurunan angka stunting melalui pendampingan ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga berisiko.

Bacaan Lainnya

Burhanuddin menyampaikan hal tersebut pada pembukaan kegiatan peningkatan kapasitas kelembagaan lembaga kemasyarakatan desa dan kelurahan bagi kader Posyandu di Auditorium LPP RRI Nabire, Kamis, 22 Oktober 2026.

“Pembangunan kesehatan merupakan salah satu fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan stunting serta penyakit menular membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama,” ucapnya.

Menurut Burhanuddin, kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat membantu warga memahami risiko penyakit, mengenali gejala awal, serta mengakses layanan kesehatan sebelum kondisi memburuk.

Ia meminta kader meningkatkan kemampuan memberikan penyuluhan, mendampingi keluarga, menemukan indikasi masalah kesehatan sejak dini, dan melaporkannya kepada petugas terkait.

Dalam penanganan HIV/AIDS dan TBC, Burhanuddin menekankan pentingnya pemeriksaan dini serta penghapusan stigma terhadap orang yang terinfeksi atau membutuhkan layanan kesehatan. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mendiskriminasi orang dengan HIV/AIDS.

“Orang dengan HIV/AIDS harus tetap diperlakukan secara manusiawi, mendapatkan dukungan, serta memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat,” pesannya.

Untuk mencegah malaria, ia mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menghindari gigitan nyamuk, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.

Burhanuddin juga meminta kader Posyandu memperkuat pendampingan terhadap ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga yang berisiko mengalami stunting. Menurut dia, langkah tersebut membutuhkan keterlibatan keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah setempat.

Burhanuddin menilai kondisi geografis Nabire menuntut pendekatan pelayanan kesehatan yang berbeda di setiap wilayah. Kabupaten ini memiliki kawasan pesisir dan kepulauan, perkotaan, hingga pegunungan dan pedalaman.

Karena itu, ia meminta kader membangun koordinasi dengan pemerintah kampung dan kelurahan, pemerintah distrik, Puskesmas, tenaga kesehatan, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.

“Kader Posyandu tidak bekerja sendiri. Dukungan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, keluarga, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan,” tegasnya.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Para kader perlu menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh dalam kegiatan pelayanan sehari-hari agar masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.

Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) menyelenggarakan kegiatan itu untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mendukung pencegahan stunting, HIV/AIDS, TBC, dan malaria.

Kepala DPMK Kabupaten Nabire, Pilemon Madai, meminta peserta mengikuti seluruh materi dengan serius. Ia juga mendorong mereka aktif bertanya agar memahami materi yang akan diterapkan saat kembali bertugas di wilayah masing-masing.

Pilemon menegaskan bahwa pelatihan harus menghasilkan perubahan nyata dalam pelaksanaan tugas kader, terutama ketika memberikan edukasi dan mendampingi warga yang membutuhkan layanan kesehatan.

Panitia mencatat 297 kader dari 132 Posyandu di 15 distrik mengikuti kegiatan tersebut. Setiap Posyandu mengirimkan dua hingga tiga kader untuk mengikuti pelatihan selama dua hari, pada 22–23 Oktober 2026.

Perwakilan Bapperida Kabupaten Nabire, Dinas Kesehatan, dan para kader Posyandu dari berbagai distrik turut menghadiri kegiatan tersebut.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Nabire berharap kader Posyandu lebih aktif memberikan edukasi, mengenali risiko kesehatan sejak dini, dan menghubungkan masyarakat dengan layanan medis.

Pemerintah juga menargetkan penguatan peran kader dapat mendukung pencegahan penyakit menular serta mempercepat penurunan stunting di Nabire.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *