Nabire, 01 November 2025, Faktanabire.com — Wacana pergantian Presiden PT Freeport Indonesia (PTFI) mencuat ke publik dan menuai beragam tanggapan, termasuk dari kalangan politisi Papua Tengah.
Anggota DPR Provinsi Papua Tengah dari Partai Amanat Nasional (PAN), Peanus Uamang, Tegaskan pentingnya memberikan kesempatan bagi putra asli Papua untuk memimpin perusahaan tambang raksasa itu.
Peanus menjelaskan, PT Freeport Indonesia pertama kali masuk ke Indonesia pada 7 April 1967, ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja pertama bersama pemerintah Indonesia.
“Jadi peristiwa ini awal mula PT Freeport beroperasi di Papua. Lalu pada tahun 1972, kegiatan produksi dan pengolahan bijih mulai dilakukan,” ujarnya di Nabire, Sabtu (1/11).
Lebih lanjut ia menguraikan, pada 1991 dilakukan penandatanganan kontrak karya kedua dengan jangka waktu 30 tahun dan hak perpanjangan. Kemudian pada 2018, pemerintah Indonesia resmi mengakuisisi 51 persen saham PTFI, dan perusahaan berubah status menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dengan perpanjangan usaha hingga tahun 2041.
Namun, menurut Peanus, sejak awal berdirinya hingga saat ini, belum pernah ada orang asli Papua yang menjabat Presiden Direktur PT Freeport Indonesia.
“Papua sekarang bukan seperti dulu. Banyak anak Papua yang sudah mampu dan berpendidikan tinggi, ada yang jadi pilot, dokter, dan lain-lain. Jadi bagi saya, sudah waktunya orang Papua pimpin PT Freeport,” tegasnya.
Ia pun mengusulkan agar nama-nama dari suku-suku asli Papua seperti Amungme, Kamoro, Mee, Moni, Damal, Lani, dan Nduga mendapat prioritas untuk tempati posisi puncak di perusahaan tersebut.
Sebagai wakil rakyat, Peanus berkomitmen untuk terus menyuarakan agar ke depan kepemimpinan Freeport berasal dari masyarakat lokal Papua.
“Saya akan terus perjuangkan agar harapan ini bisa terwujud. Sudah saatnya putra asli Papua pimpin perushaan di tanahnya sediri,” pungkasnya.







