Siriwo, Faktanabire.com – Suasana haru menyelimuti momen pelepasan siswa-siswi kelas VI SD Negeri Bibiyeuto, Kampung Epomani, Distrik Siriwo, pada 23 Juni 2025. Di balik senyuman anak-anak yang dilepas, tersimpan cerita panjang tentang kerasnya perjuangan pendidikan di wilayah Oge Siriwo, yang hingga kini masih menghadapi kondisi sangat memprihatinkan.
Banyak anak di kampung tersebut terpaksa putus sekolah. Alasannya bukan karena kurangnya semangat belajar, tetapi karena tekanan ekonomi yang membelenggu orang tua mereka. Sumber pendapatan utama warga hanyalah dari berkebun. Ditambah lagi, hasil kerja fisik masyarakat sangat terbatas, sehingga biaya pendidikan seperti SPP nyaris tak tersentuh.
“Sungguh sedih melihat orang tua banting tulang demi anak-anak mereka, tapi tetap saja banyak yang terhenti sekolah,” tutur Marten Uwiya, salah satu warga.
Ketimpangan pendidikan antara kampung dan kota pun menjadi sorotan tajam masyarakat setempat. Mereka menilai, sekolah-sekolah di wilayah Oge Siriwo tidak pernah mendapatkan perhatian yang layak dibandingkan dengan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan Meepago. Fasilitas minim, guru sering tidak hadir, dan dukungan dari pemerintah belum terasa nyata.
Tokoh intelektual lokal, Masel Magai, turut menyuarakan kekecewaannya terhadap sistem pendidikan yang dinilai tidak adil. Ia menyebut, jalur bantuan pendidikan lebih banyak mengalir ke anak-anak di kota, sementara anak-anak dari kampung seperti di Siriwo hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
“Kita seakan hanya jadi penonton. Semua jalur bantuan pendidikan tidak pernah sampai ke anak-anak kami,” ungkapnya.
Masyarakat berharap agar pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah konkret. Ketimpangan pendidikan tidak boleh terus dibiarkan. Setiap anak, tanpa memandang asal-usul dan lokasi geografisnya, berhak atas pendidikan yang layak dan berkualitas.







