NABIRE, Faktanabire.com – Dalam rangka menciptakan kondisi yang kondusif menjelang momentum 1 Mei, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI) menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan di Aula Gedung RRI Nabire, Jalan Merdeka, Kelurahan Karang Mulia, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.03 WIT hingga 12.45 WIT tersebut mengangkat tema “Bergabungnya Kembali Papua dalam Bingkai NKRI, Bersatu dalam Keberagaman, Kuat dalam Kebangsaan” dan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai unsur, mulai dari masyarakat, pemerintah, tokoh adat, pemuda, organisasi perempuan, hingga aparat TNI.
Seminar dipimpin langsung oleh Ketua DPD BMP RI Papua Tengah, Melkisedek F. Rumawi. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I Setda Papua Tengah Alantino Wiay, sejumlah tokoh adat, tokoh pemuda, serta perwakilan berbagai elemen masyarakat.
Dalam sambutannya, Melkisedek F. Rumawi menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperingati peristiwa bersejarah 1 Mei 1963, yakni penyerahan Irian Barat dari United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Ia menekankan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Rangkaian kegiatan diisi dengan penyampaian materi wawasan kebangsaan oleh narasumber, yakni Sekretaris Jenderal DPP BMP RI Papua Albert Ali Kabiay dan tokoh pemuda Agustinus Norton Karubuy.
Dalam paparannya, Albert Ali Kabiay menekankan pentingnya pemahaman sejarah yang objektif dan berbasis data, serta mengajak generasi muda untuk bijak dalam menyaring informasi di era digital.
Ia juga menegaskan bahwa kembalinya Papua ke dalam NKRI merupakan bagian dari proses sejarah panjang melalui jalur diplomasi internasional, bukan semata-mata perebutan wilayah. Oleh karena itu, sejarah harus dijadikan sebagai dasar untuk memperkuat persatuan, bukan memicu perpecahan.
Sementara itu, Agustinus Norton Karubuy menyoroti pentingnya perubahan pola pikir generasi muda Papua agar mampu bersaing di era global tanpa meninggalkan jati diri budaya. Ia mendorong generasi muda untuk menguasai berbagai bidang strategis seperti teknologi digital, ekonomi kreatif, pertanian modern, serta membangun kepemimpinan yang berintegritas.
Dalam sesi dialog, peserta mengangkat sejumlah isu strategis, di antaranya kesenjangan pendidikan, ekonomi, kesehatan, evaluasi Otonomi Khusus, hingga pentingnya keadilan dan keamanan di Papua. Para narasumber menegaskan bahwa berbagai persoalan tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi, dan masyarakat.
Kegiatan seminar ditutup dengan penegasan pentingnya persatuan dalam keberagaman, pembukaan ruang dialog yang konstruktif, serta penguatan peran generasi muda dalam pembangunan Papua. Selain itu, kegiatan juga dirangkaikan dengan pembagian bantuan sembako kepada peserta sebagai bentuk kepedulian sosial.
Seminar ini tidak hanya menjadi sarana edukasi dan refleksi sejarah, tetapi juga wadah memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keutuhan NKRI serta mendorong terwujudnya Papua yang damai, maju, dan sejahtera menjelang peringatan 1 Mei sebagai momentum bersejarah kembalinya Papua ke pangkuan Indonesia.







