Dinas Pendidikan Nabire Integrasikan Edukasi Malaria ke Kurikulum, Berlaku Mulai Tahun Ajaran Baru

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M., bersama Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina.

NABIRE, Faktanabire.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire mulai mengintegrasikan edukasi malaria ke dalam proses pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK. Program ini akan diterapkan pada tahun ajaran baru yang dimulai Juli 2026 sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi malaria di Kabupaten Nabire.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer, M.M., mengatakan kebijakan tersebut diambil karena tingginya angka kasus malaria pada anak usia sekolah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, hingga pertengahan 2026 tercatat sekitar 900 kasus malaria pada kelompok usia sekolah.

Bacaan Lainnya

“Kami akan mengintegrasikan materi malaria ke dalam mata pelajaran yang telah disepakati tim perumus pada 22 Juni 2026. Ke depan, muatan lokal kesehatan juga akan mencakup materi AIDS dan TB secara bertahap,” ujar Dina.

Ia menjelaskan, tim perumus terdiri atas Kepala Seksi Kurikulum di setiap jenjang pendidikan, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), serta Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Nabire.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan akan mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh satuan pendidikan agar mulai menerapkan pembelajaran malaria pada tahun ajaran baru.

“Target kami, mulai Juli seluruh sekolah di Kabupaten Nabire sudah melaksanakan pembelajaran malaria yang terintegrasi. Buku pegangan dan bahan ajar telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan. Kami berharap anak-anak memperoleh pemahaman yang baik tentang pencegahan malaria,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina, mengungkapkan bahwa sejak Januari hingga Juni 2026 pihaknya mencatat 4.060 kasus positif malaria di Kabupaten Nabire. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 kasus terjadi pada anak usia sekolah.

Menurut Elvina, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran sejak dini mengenai pencegahan malaria.

“Siswa harus mendapatkan edukasi secara berkelanjutan di setiap jenjang pendidikan agar mereka mampu menjadi agen edukasi bagi keluarga masing-masing dalam mencegah malaria,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa malaria bukan penyakit yang dapat dianggap ringan karena berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius.

“Malaria dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil, pembengkakan limpa, bahkan menyerang otak. Selain itu, penyakit ini juga dapat menurunkan kemampuan kognitif anak apabila mereka terpapar secara berulang,” jelasnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Health Officer UNICEF Wilayah Papua, Iswahyudi. Ia mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang dibangun Pemerintah Kabupaten Nabire dalam memperkuat upaya eliminasi malaria.

“Eliminasi malaria tidak dapat dicapai hanya oleh sektor kesehatan. Sektor pendidikan, pemerintah kampung, dan seluruh masyarakat harus terlibat aktif agar upaya ini berhasil,” katanya.

Menurut Iswahyudi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa infeksi malaria berulang dapat menyebabkan anemia, menurunkan kemampuan kognitif, mengganggu konsentrasi belajar, meningkatkan angka ketidakhadiran siswa di sekolah, hingga menurunkan prestasi belajar. Pada kasus berat, malaria bahkan dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.

“Integrasi pembelajaran malaria menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Nabire dalam membangun kolaborasi lintas sektor. Keberhasilan program ini harus didukung peningkatan kapasitas guru, penyediaan bahan ajar yang memadai, serta monitoring dan evaluasi secara berkala agar berjalan efektif dan berkelanjutan,” tutupnya.

Pos terkait