NABIRE, Faktanabire.com – Dua kelompok masyarakat yang terlibat keributan di depan SMP Negeri 2 Nabire dan SD Inpres Bumiwonorejo, Jalan Perintis, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sepakat berdamai dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Kedua pihak juga berkomitmen tidak memperpanjang insiden yang terjadi.
Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Nabire, Kompol Henri Alfredo Korwa, S.I.K., M.H., mengatakan kedua kelompok mencapai kesepakatan damai setelah mengikuti pertemuan bersama sejumlah tokoh masyarakat di Polres Nabire, Sabtu (17/10/2026).
“Proses penyelesaian masalah sudah disepakati. Kedua pihak telah menyepakati penyelesaian secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang kejadian ini,” ujar Henri.
Henri menjelaskan, polisi bersama tokoh masyarakat menyampaikan hasil kesepakatan tersebut kepada masing-masing kelompok. Langkah ini bertujuan memastikan seluruh pihak memahami dan menjalankan komitmen perdamaian.
Kedua kelompok menandatangani surat pernyataan damai yang memuat empat poin utama.
Pertama, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Kedua, masing-masing pihak bersedia berdamai dan saling meminta maaf atas persoalan yang terjadi.
Ketiga, masing-masing pihak bertanggung jawab atas korban maupun kerusakan barang yang terjadi di pihaknya. Keempat, apabila muncul insiden baru setelah kesepakatan damai ditandatangani, kedua pihak akan memperlakukannya sebagai persoalan baru yang tidak berkaitan dengan perkara sebelumnya.
Henri meminta kedua kelompok mematuhi seluruh isi surat pernyataan damai dan menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik kembali.
Ia berharap kesepakatan yang dicapai di ruang Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Nabire itu menjadi landasan bagi kedua kelompok untuk memperbaiki hubungan dan menjaga keamanan serta ketertiban di lingkungan Bumiwonorejo.
Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, Polres Nabire mengerahkan 100 personel gabungan dari Polres Nabire dan Brimob Batalyon A Polda. Personel tersebut bertugas menjaga keamanan, mengendalikan situasi, dan mengantisipasi kemungkinan munculnya keributan susulan.
Polisi mencatat sekitar 11 orang dari kedua kelompok mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Keributan itu juga mengakibatkan satu kendaraan milik petugas dan tujuh kendaraan umum mengalami kerusakan.
Meski kedua kelompok telah sepakat berdamai, aparat keamanan tetap melakukan penjagaan di lokasi. Polisi menempatkan personel sejak pagi hingga sore hari dan melanjutkan pengamanan sampai malam untuk memastikan situasi tetap terkendali.
Terkait pemicu keributan, Henri mengatakan informasi awal yang diterima polisi mengarah pada kesalahpahaman mengenai sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman. Namun, polisi masih memeriksa informasi tersebut untuk memastikan penyebab insiden.
“Untuk penyebabnya, informasi awal memang ada miskomunikasi terkait sampah rumah tangga yang dibuang ke halaman. Namun, prinsipnya kami masih melakukan pengecekan di lapangan,” jelas Henri.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Menurutnya, informasi yang tidak benar dapat memperkeruh situasi dan memicu persoalan baru di tengah masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak termakan informasi yang tidak benar. Apabila ada informasi yang benar, nanti akan kami sampaikan. Jadi, semuanya diserahkan kepada pihak keamanan,” katanya.
Henri juga mengajak masyarakat menahan diri, menjaga komunikasi, dan menyerahkan penanganan persoalan kepada aparat keamanan.
Ia berharap seluruh pihak menghormati kesepakatan damai yang telah ditandatangani agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan situasi keamanan serta ketertiban di Kabupaten Nabire tetap kondusif.
