NABIRE, Faktanabire.com – Kepala Suku Moora, Donatus Sembor, mengajak masyarakat memaknai nilai-nilai Pancasila sekaligus merefleksikan perjalanan sejarah Papua untuk memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, dan membangun kehidupan sosial yang damai serta berkeadilan.
Donatus menyampaikan ajakan tersebut saat menghadiri kegiatan Kesaktian Pancasila dan Kilas Balik Sejarah Papua di Nabire, Papua Tengah, Jumat (9/10/2026).
Dalam sambutannya, Donatus mengajak seluruh peserta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas penyertaan-Nya sehingga mereka dapat berkumpul untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga menjadi pedoman moral dalam membangun kehidupan bermasyarakat di tengah keberagaman.
“Pancasila harus kita maknai sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilainya perlu kita wujudkan melalui penghormatan terhadap Tuhan, sikap kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial,” tegas Donatus.
Menurutnya, masyarakat perlu menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan sekaligus mempelajari perjalanan sejarah secara objektif dan proporsional.
Ia mengingatkan masyarakat agar memahami setiap periode pemerintahan berdasarkan konteks sejarahnya. Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa masa lalu untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.
Donatus menilai masyarakat perlu memahami perjalanan sejarah integrasi dan perkembangan Papua melalui berbagai sudut pandang, bukan hanya dari aspek politik dan administrasi pemerintahan.
“Sejarah Papua perlu kita pelajari secara menyeluruh dengan melihat dinamika politik internasional, kebijakan nasional, peran tokoh-tokoh nasional, serta kontribusi para tokoh lokal dan masyarakat adat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengenali peran tokoh nasional Papua, seperti Frans Kaisiepo, sekaligus memberikan ruang bagi pengetahuan sejarah yang diwariskan masyarakat adat dari generasi ke generasi.
Menurut Donatus, kesaksian para pelaku sejarah lokal, termasuk Yusuf Senang dari Suku Moor dan Yulius Sembor, serta tradisi lisan masyarakat, menyimpan informasi penting mengenai perjalanan sejarah Papua.
Karena itu, ia mendorong masyarakat, tokoh adat, dan generasi muda untuk mendokumentasikan berbagai kesaksian tersebut agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.
“Kesaksian para pelaku sejarah dan ingatan kolektif masyarakat adat perlu kita dokumentasikan dengan baik. Namun, kita juga harus mengkajinya secara ilmiah agar informasi yang kita himpun dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa peneliti dapat menguji dan memperkaya kesaksian lisan dengan membandingkannya terhadap data linguistik, arsip, serta dokumen resmi yang relevan.
Donatus berharap langkah tersebut dapat membantu masyarakat menyusun pemahaman sejarah Papua yang lebih komprehensif sekaligus menjaga warisan pengetahuan masyarakat adat.
Lebih lanjut, Donatus menyoroti posisi strategis Nabire sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah dalam mempertemukan nilai-nilai kebangsaan dengan penghormatan terhadap identitas budaya lokal.
Ia mengajak masyarakat untuk terus memperkuat pendidikan, mengembangkan dokumentasi sejarah, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, ketiga upaya tersebut harus berjalan beriringan agar masyarakat dapat membangun kehidupan yang damai, adil, inklusif, dan saling menghormati.
“Persatuan harus kita rawat dengan menghargai keberagaman. Kita juga perlu menjaga identitas budaya, menghormati pengalaman sejarah masyarakat adat, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila untuk menciptakan kehidupan yang adil bagi semua,” tuturnya.
Donatus berharap kegiatan Kesaktian Pancasila dan Kilas Balik Sejarah Papua tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia mendorong masyarakat menjadikannya sebagai ruang refleksi untuk memperkuat persaudaraan, merawat warisan budaya, dan meningkatkan pemahaman sejarah bagi generasi muda.
Ia menegaskan bahwa masyarakat dapat membangun masa depan Papua yang lebih baik dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menghargai sejarah, serta menjunjung tinggi persatuan dan keadilan dalam kehidupan bersama.








