Mapia, 23. September 2025, Faktanabire.com — Di tanah Abouyaga, Dusun Kitakebo, Distrik Mapia Barat, terbentang sebuah kebun yang bukan sekadar ladang hijau. Satu hektar tanah di pinggiran Kabupaten Dogiyai itu telah menjadi rumah bagi ribuan anggrek sejak tahun 1984. Waktu berjalan empat dekade, namun keindahan itu tetap terjaga, rapi, dan bersih, seakan menolak ditelan usia.
Di bawah naungan pepohonan dan pelukan tanah Papua, sekitar 2.000 koker anggrek berdiri, masing-masing menyimpan kehidupan hingga sepuluh rumpun. Anggrek-anggrek itu tumbuh seperti doa yang berulang, setia menemani lelaki penjaganya, Esebiyus Mote.
“Orang-orang Mapia Barat sudah lama mengembangkan budaya noken anggrek. Yang pertama kali menanam anggrek itu adalah saya sendiri, sejak tahun 1984 sampai sekarang masih tetap merawat. Kebun 1 hektar masih bersih dan rapi”, ungkap Esebiyus Mote kepada Faktanabire.com, Sabtu (20/09).
Namun, di balik keelokan yang mekar, ada kesunyian yang menyesakkan. Empat puluh tahun lebih kebun ini dijaga, tetapi hingga kini, tak ada tangan yang hadir memberi dukungan.
Hingga kini, tiada bantuan langsung dari pemerintah untuk menopang kebun anggrek ini. Padahal, bunga-bunga itu bukan hanya sekadar hiasan, melainkan potensi besar bagi kebudayaan dan pariwisata daerah.
Harapan itu tetap ia simpan, seperti bunga yang menanti cahaya pagi. Dengan nada penuh keteguhan, ia menitipkan pesannya:
“Pemerintah tolong lihat tempat kerja kami di kebun anggrek. Ini aset penting untuk pariwisata dan kebudayaan, sekaligus warisan yang sudah saya jaga sejak dulu,” tegasnya.
Kebun anggrek milik Esebiyus Mote bukan sekadar taman bunga, melainkan kisah kesetiaan, warisan budaya, dan bukti cinta manusia kepada alam. Jika suatu hari pemerintah tergerak sanubarinya dan memberi perhatian, kebun ini bisa menjelma menjadi permata wisata Dogiyai, menebarkan harumnya hingga jauh ke penjuru dunia.
