Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan APN Dorong Mama-Mama Papua Jadi Agen Perubahan di Nabire

Foto bersama Aliansi Perempuan Nabire dan peserta kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan, di Pantai Nabire, Gang Masuk Grand Hotel Papua, Kalibobo, Nabire, Sabtu, 06/12/2025. (Dok. Istimewa).

Nabire, 6 Desember 2025, Faktanabire.com — Aliansi Perempuan Nabire (APN) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan dengan tema “Peranan Perempuan Adat sebagai Agen Perubahan dalam Pembangunan” dan subtema “Mama-Mama Papua sebagai Penggerak Masyarakat Nabire dalam Mendukung Program Nasional”.

Kegiatan yang diikuti sekitar 70 peserta, berlangsung di Pantai Nabire, Gang Masuk Grand Hotel Papua, Kelurahan Kalibobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Sabtu, (06/12).

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut, turut dihadiri sejumlah tokoh perempuan, antara lain: Adriana Sahempa, Ketua Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah, Mirna Anembora, Anggota MRP Papua Tengah Pokja Perempuan, Maya Yakadewa.

Pada kesempatan itu, Adriana Sahempa menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan masyarakat.

“Perempuan adalah penerus kehidupan. Tugas kita adalah menjalankan peran itu dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa organisasi Persatuan Perempuan Nusantara Papua Tengah terbuka bagi seluruh perempuan dari Sabang sampai Merauke yang berdomisili di Papua Tengah dan ingin bersinergi mendukung program pemerintah.

“Kami ingin menjadi mitra pemerintah dalam mensukseskan program-program pembangunan, termasuk program makanan bergizi untuk anak-anak,” katanya.

Adriana juga mengajak perempuan untuk terus mengembangkan potensi diri.

“Jangan anggap perempuan itu lemah. Tubuh perempuan dirancang untuk menahan berbagai tantangan, termasuk mengandung dan melahirkan kehidupan baru. Itu bukti kekuatan perempuan,” tegasnya.

Dalam penyampaian materi, Ketua APN, Oktavia, menekankan pentingnya peran Mama-Mama Papua sebagai pilar sosial, budaya, dan ekonomi.

“Mama-mama adalah pejuang ekonomi keluarga. Mereka terlibat dalam pasar, pertanian, perikanan, hingga kerajinan. Keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada keterlibatan perempuan,” jelasnya.

Ia memaparkan sejumlah program nasional yang relevan, mulai dari pemberdayaan UMKM, program gizi keluarga, perlindungan anak, hingga ketahanan pangan.

Lebih lanjut, Oktavia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas perempuan harus dilakukan melalui edukasi, pelatihan keterampilan, pembentukan kelompok ekonomi, serta kolaborasi dengan pemerintah dan tokoh adat.

“Dengan pemahaman dan keterampilan yang kuat, mama-mama dapat memimpin perubahan di keluarga, kampung, dan komunitas,” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, dua peserta menyampaikan kendala yang mereka hadapi.

Elisabeth, seorang pengrajin noken, menyampaikan bahwa hasil kerajinan mereka sulit dipasarkan.

“Kami punya keahlian menganyam noken, tapi sampai sekarang belum banyak yang terjual. Kami mohon solusi dari pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Ibu Masakeri mengeluhkan belum terealisasinya bantuan kios kontainer dan payung jualan.

“Kami sudah mengajukan kios, tapi belum ada hasil. Kami juga butuh payung supaya tidak berjualan di bawah panas,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Oktavia menegaskan komitmen APN untuk menyampaikan aspirasi ke dinas terkait.

“Noken adalah warisan budaya bernilai tinggi, dan pemasaran harus diperkuat melalui kemitraan dan pelatihan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya fasilitas dagang yang layak.

“Kami akan mendorong Dinas Koperasi, UMKM, dan Dinas Perdagangan untuk mengakomodasi kebutuhan kios dan payung jualan,” tambahnya.

Mirna Anembora, Anggota MRP Papua Tengah Pokja Perempuan, mengingatkan bahwa perempuan adat memiliki kedudukan strategis dalam pembangunan.

“Perempuan bukan pelengkap, tetapi penentu arah masa depan komunitas,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa MRP telah mengusulkan aturan khusus untuk memastikan perempuan adat mendapat ruang dalam ekonomi kerakyatan.

“Undang-undang boleh ada, tapi kalau pemerintah tidak memberi ruang bagi perempuan, maka Otsus tidak berjalan,” katanya.

Mirna juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya dan kesehatan keluarga.

“Banyak makanan tradisional mulai hilang. Kita harus kembali memperkuat identitas budaya, termasuk melalui pendidikan anak-anak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tahun depan APN akan membentuk kelompok perempuan adat di kampung-kampung dan melakukan pelatihan.

“Mulai Januari, kami akan turun langsung melakukan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan. Perempuan adat bisa memimpin perubahan mulai dari keluarga hingga kabupaten,” pungkasnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, penyerahan bantuan sembako secara simbolis. Sosialisasi ini diharapkan memperkuat peran perempuan adat dalam pembangunan dan mendorong mama-mama Papua menjadi penggerak ekonomi keluarga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *