Nabire, 6 September 2025, Faktanabire.com — Perjuangan panjang tak menghalangi semangat pelajar Kabupaten Dogiyai untuk mengharumkan nama daerah mereka. Dengan menempuh perjalanan berat, termasuk berjalan kaki sejauh 4 kilometer melewati jalan yang tertutup longsor, tim pelajar Dogiyai berhasil meraih juara pertama dalam ajang Festival Budaya Pelajar Papua Tengah yang digelar di Nabire.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Bidang SD, SMP, SMA, dan SMAK Kabupaten Dogiyai, Benedictus Goh, mengisahkan betapa rumitnya perjalanan menuju lokasi festival.
“Perjalanan kami cukup rumit dengan adanya bencana alam. Dari kilometer 141 sampai 138, kami harus berjalan kaki 4 kilo meter. Jadi estafet, naik mobil, jalan kaki, lalu mobil lagi hingga tiba di Nabire,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan berat, para pelajar tetap bersemangat. Bahkan menurut Benedictus, anak-anak terbiasa berjalan kaki, sehingga jarak 4 kilometer bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit.
Keberangkatan tim Dogiyai bermula dari undangan resmi yang dikirim oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian diteruskan ke Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Dogiyai. Undangan itu disambut baik dan langsung dieksekusi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Dogiyai.
Dalam persiapan, guru pendamping dipilih melalui forum terbuka bersama seluruh guru di SMP YPPK Monemani, bukan penunjukan sepihak. Guru-guru sendiri yang menentukan siapa yang layak mendampingi siswa di bidang sendratari.
“Sejak awal kami hanya memfasilitasi dan menunjuk guru pendamping. Seluruh proses seleksi siswa hingga pelatihan sepenuhnya adalah kerja keras para guru pendamping,” kata Benedictus.
Hasilnya, kerja sama dan ketekunan itu membuahkan prestasi tertinggi di ajang provinsi. Namun, menurut Benedictus, tujuan utama keikutsertaan bukan semata-mata mengejar juara, melainkan menampilkan keaslian budaya Dogiyai.
Ke depan, pihaknya berharap pengalaman ini menjadi pijakan untuk melahirkan sanggar budaya di Dogiyai.
“Kami sudah diskusi. Setelah kembali nanti, kami harap kebudayaan ini bisa melahirkan sanggar, supaya tidak hanya tampil ketika ada momentum, tapi bisa jadi rutinitas,” tutupnya.







