Nabire, 27 Agustus 2025, Faktanabire.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melalui Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar) BSKAP mendukung pengembangan muatan lokal di Papua Tengah.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam merumuskan pengembangan muatan lokal yang kontekstual, terutama dalam merespons situasi darurat kesehatan akibat epidemi HIV/AIDS di wilayah tersebut.
Papua Tengah saat ini menghadapi tantangan serius dengan jumlah akumulasi kasus HIV/AIDS yang mencapai sekitar 23.188 jiwa hingga Maret 2025. Kondisi ini mendorong dunia pendidikan untuk turut serta berperan aktif melalui penguatan kurikulum berbasis muatan lokal.
“Pendidikan yang responsif terhadap potensi dan kebutuhan lokal sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan memberdayakan. Melalui FGD ini, kita mengintegrasikan nilai budaya, potensi sumber daya, serta tantangan khas daerah, termasuk penanggulangan HIV/AIDS, ke dalam kurikulum,” ujar Kepala Puskurjar BSKAP Kemendikdasmen, Dr. Laksmi Dewi, M.Pd.
Dalam FGD tersebut, telah dilakukan analisis kebutuhan dan pemetaan substansi muatan lokal. Hasilnya, tim pengembang kurikulum bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Tengah akan menyusun berbagai dokumen penting, mulai dari capaian pembelajaran, perangkat ajar seperti modul dan buku, hingga draf regulasi seperti SK tim pengembang dan Pergub/Perda untuk implementasi muatan lokal.
Tahapan selanjutnya mencakup rencana pelatihan guru, pelaksanaan uji coba (piloting) implementasi di sekolah, hingga evaluasi efektivitas pembelajaran. Kemendikdasmen melalui Puskurjar juga akan terus memberikan fasilitasi berupa layanan konsultasi dan penjaminan mutu dalam setiap proses pengembangan tersebut.
“Ini bukan hanya soal kurikulum, tetapi bagian dari gerakan bersama untuk menyelamatkan generasi Papua Tengah dari ancaman HIV/AIDS melalui pendidikan,” tambah Laksmi Dewi.







